Jumat, 04 Oktober 2013

ALLAH SAYANG KITA SEMUA



Namaku Eksel. Umurku 9 tahun. Aku duduk di bangku kelas 3 SD. Setiap hari aku selalu diejek teman karena nilai ulanganku jelek. Aku sering dimarahi mamaku juga setiap hari karena aku malas membaca.
Temanku Ima datang menghampiriku,”Eksel, jangan menangis ya… Memangnya ada apa denganmu?”
”Aku sering tidak belajar, dan kalau guruku mengajariku, aku tetap tidak bisa. Akhirnya nilaiku jadi nol” Jawabku lemah…
“Oh, begitu Eksel…” Kata Ima menghiburku, sambil memegang pundakku, “Kenapa kamu kalau di sekolah tidak bawa uang jajan terus?” Tanyanya hati-hati.
“Aku…tidak bawa uang jajan karena aku dimarahi terus oleh mamaku. Kata mama, selama 2 bulan eksel tidak dikasih uang jajan karena malas belajar…” Jawabku, sambil mulai menangis lagi, “Begitulah Ima”
Ima menatapku sedih, “Sudahlah… nanti Eksel jajan bersamaku. Yang penting nanti mau belajar ya… Sudahlah… jangan menangis lagi..” Ima terus menghiburku. Aku mengangguk perlahan. Beruntung punya teman sebaik Ima. Aku menghapus air mata. Sementara bel tanda istrahat pun berbunyi.
Ima langsung mengajakku ke kantin. “Wah, sudah lama aku tidak makan bakwan jagung buatan Bu Mira” Gumamku perlahan. Tapi rupanya masih terdengar oleh Ima. Akhirnya dia tahu makanan paforitku.
“Eksel, kamu duduk dulu ya.. Aku yang traktir” Kata Ima. Tak lama kemudian, Ima sudah datang membawa bakwan jagung dan jus buah. Kamipun makan dengan lahap hingga bel masuk berdering.
 Pelajaran berikut adalah Matematika, merupakan pelajaran yang sangat sulit bagiku. Memang salahku sendiri karena jarang belajar dan latihan. Aku menyesal, hingga tak terasa aku mulai menangis lagi.
Bu Guru yang melihatku menangis, langsung menghampiriku,”Eksel, kenapa menangis, nak?” Tanya Bu Guru dengan lembut.
“Eksel tidak bisa belajar matematika, Bu. Eksel tidak bisa menghitung….karena…Eksel malas belajar” Jawabku terbata-bata.
“Lho…Pelajaran tidak ada yang susah kalau kita mau belajar, Eksel. Sekarang, Eksel ingin bisa ngga?”
“Ingin, Bu”
“Begini saja, kalau pulang sekolah, Eksel mau kan belajar dulu sama Bu Guru. Jadi sementara pulangnya terlambat?”
“Baik, Bu” Aku mengangguk.
Sementara itu, ketika pelajaran berlangsung, aku kembali disorakin teman-teman, karena nilai matematikaku jelek. Aku mendapat nilai 2,0 nilai terendah di kelas. Bu Guru menenangkan teman-teman, “Sudah…sudah… Sekarang Eksel mau belajar Kok. Jadi tidak perlu ditertawakan. Bahkan seharusnya kalian memberi semangat kepada Eksel”
Aku menangis lagi, “Bu… Apakah Allah tidak sayang kepada Eksel, Bu? Kenapa Eksel selalu dimarahi Mama? Kenapa Eksel selalu disorakin teman-teman? Kenapa juga Eksel selalu nilainya jelek?” Kataku terbata-bata,”Eksel ingin disayang Mama, tapi Mama malah tidak memberi Eksel uang jajan selama 2 bulan, Bu… Eksel tidak disayang sama semua Bu…”
“Eh…. Eksel tidak boleh berkata begitu. Allah itu sayang sama kita semua. Karena itu kita harus rajin sholat, berdoa, dan juga belajar setiap hari. Selanjutnya sikap akhlah kita juga baik kepada siapa saja, maka Allah pasti tambah saying kepada kita. Termasuk Mama Eksel” Kata Bu Guru dengan lembut, “Eksel mengerti sekarang?”
“Mengerti, Bu”
“Saatnya kita belajar Matematika..”
“Iya, Bu”
Akupun belajar dengan sungguh-sungguh. Aku bertekad tidak malas lagi mulai hari ini. Aku belajar mulai berhitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian. Dalam hati aku bahagia sekali bisa belajar bersama Bu Guru, hingga tak terasa hari semakin sore.
“Eksel, sekarang Eksel sudah banyak kemajuan. Karena sudah sore, Eksel boleh pulang dulu”Kata Bu Guru.
“Iya Bu… Terima kasih…” Jawabku sambil membereskan buku-bukuku.
“Eksel giat belajar di rumah ya…supaya teman-temanmu tidak mengejekmu lagi” Nasehat Bu Guru lagi.
“Iya Bu”Jawabku sambil mengangguk.
“Kalau Eksel giat belajar, pasti disayang Allah, disayang Mamanya, teman-teman, bahkan semua orang…”
“Iya Bu… Terima kasih..”
Aku pun buru-buru pulang dengan hati riang. Sampai di rumah, ketika mengucapkan salam,”Assalamu ‘alaikum”.. tidak ada jawaban… Rupanya tidak ada orang di rumah. Mungkin Mama ke rumah Nenek. Ya, sudah… aku segera mandi, berganti pakaian dan segera menuju meja makan. Tapi ternyata di meja makan sama sekali tidak ada makanan. Aku ingat, masih punya simpanan di tempat tidurku. Uang itu kugunakan untuk membeli makanan, es, dan kue.
Sehabis makan, barulah Mama pulang.
“Darimana saja kau,Eksel? Kok tidak biasanya pulang sekolah lama sekali?”Tanya Mama sedikit marah.
“Tadi sepulang sekolah, Eksel belajar, Ma…sama Bu Guru”
Mama kelihatan senang, “Benar Eksel? Eksel belajar apa?”
“Belajar Matematika, Bu. Penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian”
“Naaah…. Begitu doong… Eksel anak Mama yang pintar…” Mama langsung memelukku dengan gembira, “Sudah lama Mama menunggu kapan Eksel mau belajar lagi… Mama jadi terharu, Nak..”
“Eksel janji, mulai sekarang..Eksel akan rajin belajar. Nanti ada ulangan Matematika lagi, Eksel ingin dapat nilai yang bagus…”
“Oke… Mama dukung…”Kata Mama senang.
“Sekarang Eksel mau sholat Maghrib dulu, terus langsung belajar”
Akupun segera sholat maghrib dan belajar seperti janjiku pada Mama. Kata Mama, kalau nilaiku 10 aku akan dibelikan sepeda baru. Dan mulai besok aku akan diberi uang jajan.
Akhirnya tibalah saatnya, ulangan Matematika yang kutunggu-tunggu. Aku penasaran, bisa ngga aku mengerjakannya. Apakah usahaku belajar selama ini berhasil? Ketika kertas ulangan dibagikan, tidak lupa aku berdoa terlebih dahulu. Ternyata, menurutku, soal Matematika kali ini tidaklah terlalu susah. Semuanya sudah pernah kupelajari.
Saat pembagian hasil ulangan, Bu Guru mengumumkan. Ternyata hasil ualnganku mendapatkan nilai….10. Teman-teman bertepuk tangan dengan meriah… Ima langsung menghapiri dan menyalamiku, “Luar biasa…Eksel.. Kamu hebat! Kamu pandai…!” Aku tersenyum haru. Tak terasa air mataku menetes. Teman-teman lainnya juga tak ketinggalan menyalamiku satu per satu. Aku bahagia!
Hari-hari selanjutnya adalah hari bahagia buatku. Aku mendapatkan hadiah sepeda dari Mama. Aku mendapatkan uang jajan lebih setiap hari, yang akhirnya kutabung sebagian. Dan lebih bahagia lagi, aku mendapat banyak teman. Alhamdu lillah.. ternyata Allah sayang sama kita semua…!

Kiriman : ICA ARDHINI, siswi SDIT Ar-Risaalah Semanan Kalideres Jakarta Barat.

Bagi kalian yang ingin ceritanya dimuat disini, silahkan kirimkan cerita kalian via email ke : mohammadsohir@yahoo.com dan m.sohir@gmail.com
Cerita yang dikirim akan diedit seperlunya. Kirimlah cerita asli, bukan saduran/terjemahan/copas dari laman yang lain. Cerita ini hanya untuk anak2 Indonesia, tidak menerima yang tidak pantas untuk anak-anak.Jangan lupa sertakan nama, kelas, asal sekolah, alamat dan biodata lain secukupnya.


BACA JUGA :
- BUAYA YANG BAIK
- HARIMAU DAN SINGA
- HARIMAU YANG NAKAL
- BERUANG YANG JAHAT
- SI BUTO SAKIT GIGI
- PERGI NAIK SEPEDA PANJANG
- KELINCI YANG SOMBONG
- PERSAHABATAN YANG SEJATI
- SHOPAHOLIC MODELS
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar